Budaya Toet Apam Tetap Menjadi Keseharian Masyarakat Pidie

Kaum ibu-ibu mengikuti Festival 'Toet Apam" di Kecamatan Mutiara, Pidie 2024. FOTO/SCREENSHOT

Sigli – Kue tradisional asal Kabupaten Pidie dengan tradisi ‘toet apam’ masih menjadi aktivitas masyarakat, khususnya kaum ibu-ibu, khususnya sepanjang bulan Rajab yang oleh masyarakat sering disebut sebagai “Buleun Apam” atau bulan Apam

“Toet apam” merupakan tradisi memasak dan menikmati kue yang mengakar kuat dalam budaya masyarakat Aceh “Toet apam” secara harfiah berarti “memasak apam”, umumnya dilakukan secara berkelompok oleh kaum ibu di desa-desa.

Tradisi ini juga memiliki nilai filosofis yang mendalam dan merupakan warisan leluhur yang dilestarikan secara turun-temurun, sering kali diadakan dalam acara kenduri (pesta) menjelang bulan suci Ramadan.

Kue apam ini yang mirip dengan serabi, umumnya dinikmati dengan kuah tuhe atau kuah kolak santan yang manis, berisi campuran santan, gula, dan potongan pisang, nangka, atau ubi. Bisa juga dimakan dengan kelapa parut yang telah dicampur gula.

Kue apam tradisional ini terbuat dari campuran bahan-bahan sederhana yakni tepung beras, santan kelapa, kelapa parut, air kelapa dan sedikit garam Secara tradisional, apam dimasak menggunakan panggangan tanah liat kecil dengan bahan bakar daun kelapa kering, meskipun saat ini banyak yang beralih ke wajan aluminium dan kompor gas.

Secara ringkas, “toet apam” merupakan perayaan kuliner dan budaya yang terus hidup di Pidie, berpusat pada kue apam yang lezat dan tradisi kebersamaan dalam menyambut bulan istimewa tersebut jelang bulan suci Ramadhan.

Umumnya, ditampilkan pada acara seni dan budaya, seperti “Piasanraya Pidie” yang digelar Dinas Budaya dan Pariwisata Aceh bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pidie dengan tema “Adat Ngoen Reusam Saban Tajaga, Agama Bek Leukang Seni Beumeseuraya”.

Perhelatan seni ini menjadi tontonan menarik masyarakat Pidie karena menyuguhkan berbagai penampilan seni dan budaya. Salah satunya adalah “toet apam” oleh sejumlah ibu-ibu yang dihadirkan di lapangan Alun-Alun Kota Sigli, seperti pada tahun 2023 lalu dan Piasan Raya Pidie 2025.

Nuraini, salah seorang ibu toet apam mengatakan, tradisi ini sudah menjadi tradisi dan budaya Pidie terutama di bulan rajab. “Tradisi toet apam ini perlu terus dibudayakan dan dilestarikan dan ini peninggalan endatu,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan para ibu-ibu yang ikut dalam acara ini nantinya akan dipilih oleh Kabupaten Pidie untuk dibawa dalam ajang Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) di Banda Aceh bulan juni nanti.

“Jadi dari beberapa grup yang tergabung toet apam ini nantinya akan dipilih Pemerintah Pidie untuk dibawa Ke PKA pada bulan 8,”lanjutnya. Setelah acara toet apam berlangsung, para pengunjung yang memadati lapangan Alun-Alun Sigli ini bebas memakan hasil olahan apam secara gratis.

Kue Apam Pidie merupakan kue tradisional khas dari Kabupaten Pidie, sejenis serabi lembut berbahan tepung beras dan santan, dimasak di wajan tanah liat dengan api kayu, berkarakteristik lembut di dalam, renyah di pinggir, serta bersarang, dan sering disajikan saat acara adat atau tradisi ‘Tet Apam’ di bulan Rajab, dinikmati dengan kuah santan manis kental berisi nangka/ubi.

Kue ini memiliki makna sosial mendalam sebagai simbol syukur dan silaturahmi dengan cita rasa juga beragam, seperti rasa Naga, labu kuning, buah gadong, ketela, daun pandan hingga durian. Aneka jenis rasa Apam itu sengaja dibuat, selain mempercantik bentuk Apam juga memperkaya cita rasanya dalam memuliakan bulan Ra’jab ini.

Kue apam yang dipersiapkan dalam sebuah kenduri di Pidie. FOTO/SCREENSHOT

Apam bukan sekadar makanan biasa, tetapi terdapat nilai budaya yang mendalam. Hidangan ini sering disajikan pada acara adat dan perayaan tradisional, seperti kenduri apam, sebuah tradisi di mana masyarakat berkumpul untuk berbagi makanan sebagai bentuk kebersamaan. Dalam tradisi ini, apam melambangkan rasa syukur dan keakraban antarwarga.

Kuliner apam dari Kabupaten Pidie juga telah resmi menerima sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional pada tahun 2022 yang lau. Apam khas Aceh mirip dengan serabi di daerah lain, terutama di Jawa.

Baik apam maupun serabi memiliki tekstur yang lembut dengan aroma khas santan. Bedanya, apam Aceh biasanya disajikan dengan kuah manis dari santan dan gula aren yang kental, sedangkan serabi sering kali dimakan polos atau dengan topping seperti kinca (kuah gula) atau bahkan variasi modern seperti cokelat dan keju.

Proses pembuatan Apam melibatkan keahlian dan kesabaran. Adonannya dimasak di atas wajan datar dari tanah liat menggunakan bara api, menghasilkan tekstur lembut di bagian tengah dan sedikit renyah di pinggirannya. Hal ini menjadikan Apam tak hanya lezat tetapi juga unik dalam tampilannya.

Bagi Anda yang ingin mencicipi atau mengenal lebih dekat kuliner tradisional Aceh, Kuliner Apam adalah salah satu hidangan yang wajib dicoba. Rasa dan maknanya yang mendalam mencerminkan keindahan budaya Aceh yang kaya dan penuh kearifan lokal yang juga terdapat di berbagai kabupaten/kota lainnya di Aceh.(Adv)

NiagaHoster