Takengon – Seni Didong telah menjadi salah satu kesenian tradisional lisan yang paling khas dan dibanggakan masyarakat Gayo di Dataran Tinggi Gayo, yakni Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Kesenian ini memadukan unsur tari, vokal dan musik dalam pertunjukan kelompok yang kaya akan nilai budaya dan sosial. Didong merupakan tradisi lisan yang disampaikan secara turun-temurun melalui syair-syair atau pantun dalam bahasa Gayo.
Kesenian ini biasanya ditampilkan oleh dua grup yang saling berhadapan sepanjang semalam suntuk, yang dikenal sebagai Didong Jalu. Mereka berbalas pantun, teka-teki, dan sindiran halus tentang kehidupan sehari-hari, adat istiadat, atau ajaran agama Islam.
Para pemain terdiri dari ceh untuk penyair/vokalis utama dan anggota lainnya menampilkan gerakan tangan dan tubuh yang ritmis sambil melantunkan syair. Gerakannya tidak seenerjik Tari Saman, namun tetap kompak dan memiliki estetika tersendiri.
Pada awalnya, alat musik utama yang digunakan adalah tepukan bantal dan tepukan tangan dari para pemain itu sendiri. Dalam perkembangannya, beberapa pertunjukan mungkin mengadopsi alat musik tambahan seperti seruling atau harmonika, namun tepukan tetap menjadi esensi irama.
Seni Didong memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Gayo, berfungsi sebagai media komunikasi dan penerangan: Ceh Didong sering kali berperan sebagai tokoh masyarakat yang dihormati, menggunakan syair untuk menyampaikan informasi, pendidikan, dan dakwah mengenai ajaran Islam serta norma-norma sosial.
Hiburan dan Estetika: Selain fungsi sosial, Didong juga berfungsi sebagai hiburan rekreatif yang memberikan kenikmatan estetis bagi para penonton. Didong juga menjadi sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat Gayo, termasuk dalam menyelesaikan perbedaan pendapat melalui sindiran dalam pantun yang halus.
Kesenian ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan emosi, ide, dan kritik terhadap berbagai aspek kehidupan. Secara keseluruhan, Didong adalah warisan budaya Gayo yang hidup dan dinamis, yang terus dilestarikan sebagai bagian integral dari identitas budaya Aceh.
Didong merupakan kesenian yang terus berkembang dari dahulu hingga saat ini. Hal tersebut karena, regenerasi didong berjalan baik, sehingga setiap generasi muncul seniman-seniman didong atau yang bisa di sebut ceh yang berbakat.
Dilansir dari buku “Didong Kesenian Tradisional Gayo” karya Drs MJ Melalatoa, kesenian didong merupakan salah satu unsur kesenian Gayo, berupa seni tari dan vokal yang cukup dominan. Bentuk keseniannya berupa gabungan seni sastra, seni tari, dan seni suara. Ritmenya diatur dengan instrument. Alat pengatur ritme berupa tepukan-tepukan tangan yang bervariasi tetapi teratur.
Diperkirakan tepukan-tepukan tangan sebagai alat pengatur ritme yang cukup tua pada kesenian tradisional masyarakat Gayo. Pertunjukan biasanya dilakukan semalam suntuk, dari Isya hingga Subuh. Masyarakat juga tidak bosan-bosannya menyaksikan pertunjukan ini.
Sejarah Didong Hingga saat ini, belum ada keterangan mengenai asal-usul didong. Ada pendapat umur kesenian didong sama tuanya dengan keberadaan orang Gayo. Namun pendapat tersebut masih teka-teki dan belum memecahkan persoalan mengenai asal-usul didong. Baca juga: Didong dan Kerawang Gayo Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda
Sejarah asal-usul didong semakin kabur karena tidak diketahui arti kata didong. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa didong mendekati pengertiannya dengan kata “dendang”, dalam Bahasa Indonesia. Arti “dendang” adalah nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama bunyi-bunyian.

Pendapat lain berdasar pada legenda Gajah Putih yang dikenal di Gayo dan Aceh pada umumnya. Disebutkan cara yang digunakan untuk membangunkan gajah putih dari tidurnya dengan berdendang, yaitu Didong.
Sejumlah pihak menyebutkan sejak saat itu ada didong, yang pada akhirnya menjadi kesenian. Pada masa lalu, didong ditandingkan dalam bentuk teka-teki sesuai dengan tema acara, seperti upacara pernikahan, upacara mendirikan rumah, upacara makan bersama setelah panen, dan lain sebagainya.
Didong dari Masa ke Masa Didong mulai mengalami perubahan sejak penjajahan Jepang, adat istiadat Gayo mengalami porak-poranda. Masyarakat Gayo terombang-ambing dengan budaya Jepang yang keras.
Kehidupan masyarakatnya morat-marit hingga menggunakan pakaian garung goni atau apa saja yang bisa dipakai menjadi lesu. Para seniman tidak ada lagi berteka-teki mengenai adat, bahkan syair-syair yang muncul dalam kesenian didong bernada protes dan membangkitkan rasa nasionalisme untuk mengenyahkan kekejaman Jepang.
Proklamasi Kemerdekaan RI merubah suasana kemelut atas kekejaman Jepang dan para pemuda mulai semangat mengusir penjajah dan mengisi kemerdekaan. Didong mulai memiliki peran lainuntuk mengobarkan semangat gotong royong dan persatuan nasional untuk kemerdekaan bangsa dan negara.
Didong digunakan untuk mencari biaya pembangunan gedung sekolah, madrasah, serta masjid. Semangat persatuan tercermin dalam grup-grup (kelop) didong. Jika sebelumnya, grup didong hanya berasal dari satu klen “belah”, maka pada masa setelah kemerdekaan didong mewakili satu kampung, dimana hampir setiap kampung muncul satu grup.
Pada masa pergolakan DI/TII di Aceh, yang terakhir pada tahun 19-50-an, didong mandek. Saat itu, kesenian didong dilarang oleh pihak DI. Namun, gelora seniman tidak terbendung, mereka bermain syair yang penampilannya mirip dengan didong. Pada saat keamanan mulai pulih, kesenian didong mulai muncul kembali yang ditandai dengan keberadaan grup-grup yang semakin banyak.
Letupan ini muncul karena sebelumnya ada kungkungan untuk menyalurkan rasa seni. Didong kemudian tumbuh dengan lika-likunya atas perubahan masyarakat. Pertunjukan Didong merupakan seni pertunjukan yang dimainkan oleh laki-laki secara berkelompok, yang biasanya berjumlah sekitar 15 orang.
Kesenian ini ditampilkan dengan ekspresi bebas, sambil duduk bersila atau berdiri dan mengentak-entakkan kaki. Para seniman didong melantunkan syair-syair berbahasa Gayo dengan suara merdu, sembari menabuh gendang, bantal atau panci, serta bertepuk tangan secara bervariasi.
Syair-syair yang dilantunkan bersama kekuatan perpaduan konfigurasi seni gerak, sastra, dan suara bagaikan menyihir penonton untuk hanyut dan terus mendengar refleksi sosial dan religius dalam kesenian ini.
Tujuan Didong adalah nasehat dan juga menjadi sarana untuk menyampaikan nasehat yang berasal dari Al Quran dan Sunnah. Didong juga digunakan untuk menyampaikan perkembangan yang ada di kehidupan sosial masyarakat.
Untuk itu kebanyakan para ceh atau bekas ceh adalah para imam meunasah atau masjid, yang biasa memiliki suara bagus. Jika bukan para ulama, ceh didong memiliki bahan syair, seperti yang dimiliki ulama.
Supaya, bahan materi yang disampaikan memiliki manfaat bagi masyarakat, materinya tidak menjelekkan atau mengejek pihak tertentu. Jika ada satu persatu penonton pulang berarti syair didong telah melenceng dari keaslianya.
Didong juga akan kembali bergema pada masa-masa sulit seusai diterjang banjir bandang dan longsor di kawasan dataran tinggi Gayo pada 26 November 2025 yang telah memporak-porandakan ribuan rumah, selain area pertanian atau perkebunan yang menjadi mata pencaharian mereka juga hancur.
Semoga, melalui seni didong, masyarakat Gayo yang tertimpa musibah akan kembali memiliki semangat untuk terus menatap kehidupan ini dengan lebih baik lagi.(Adv)








