Tari Langsir Aceh Singkil, Kisahkan Kehidupan Nelayan

Tari Langsir Balohan Aceh Singkil. FOTO/IST

Singkil – Provinsi Aceh yang dengan beragam etnis yang tersebar luas di 23 kabupaten/kota memiliki pesona yang menawan, bahkan di Pulau Banyak, Aceh Singkil ada warisan budaya yang benar-benar luar biasa.

Seni tradisional, Tari Langsir Haloban, yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBB), sebagai sebuah tarian yang indah, lahir dari keseharian nelayan melalui sejarah panjang. Tarian ini berasal dari Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil.

Tarian ini telah berhasil memikat perhatian dunia dengan keunikan dan keindahan gerakannya telah mengantarkan tarian ini meraih pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada 2023, dan diterima pada Mei 2024.

Tentunya, tarian ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Haloban. Diperkirakan, tarian ini telah ada sejak zaman dahulu dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Tari langsir ternyata memiliki unsur yang unik dan tidak dimiliki oleh tari lain, seperti pola lantai yang estetik, 32 variasi gerak yang diinstruksikan oleh komandir, serta pola kombinasi gerak yang tersusun secara runtut dan kronologis.

Gerakan-gerakan dalam Tari Langsir memiliki makna filosofis yang mendalam, menggambarkan kehidupan masyarakat Haloban yang penuh dengan harmoni dan keseimbangan dengan alam. Setiap gerakan mengandung simbol-simbol yang berkaitan dengan kepercayaan, adat istiadat, dan nilai-nilai luhur masyarakat setempat.

Penetapan Tari Langsir sebagai WBTB merupakan sebuah langkah penting dalam upaya pelestarian budaya Aceh Singkil. Pemerintah daerah, masyarakat, dan para seniman bekerja sama untuk menjaga kelestarian tarian ini.

Tari langsir merupakan satu tari tradisional etnik Haloban yang bermukim di Pulau Tuangku, kabupaten Aceh Singkil. Tari ini sempat hilang selama 20 tahun tetapi kemudian mulai muncul kembali dalam beberapa tahun terakhir ini.

Tari Langsir Haloban memiliki keunikan tersendiri, terutama dalam formasi geraknya yang menyerupai tarian Quadrilles dan Eightsome Reel dari Eropa, namun dengan gerakan dasar khas tari Joget Melayu pesisir. Asal-usul tarian ini tidak diketahui dengan pasti karena disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi.

Menurut booklet dari Kemendikbud, Tari Langsir Haloban biasanya dimainkan secara berpasangan dengan jumlah penari yang genap, yakni masing-masing delapan penari laki-laki dan delapan penari perempuan.

Pintu gerbang Kampung Haloban, Pulau Banyak Barat, Aceh Singkil. FOTO/IST

Dalam beberapa variasi, penari perempuan dapat digantikan oleh penari laki-laki untuk menghindari pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Penari yang berperan sebagai perempuan akan diberi tambahan aksesoris seperti selendang dan kain samping.

Selama pertunjukan, Tari Langsir Haloban diiringi oleh musik khas pesisir seperti khedang (sejenis rebana) dan biola dengan alunan musik Melayu yang mirip dengan Gamad dari Padang. Jumlah pemain khedang berkisar antara dua hingga delapan orang, sementara pemain biola bisa satu hingga dua orang, tergantung kebutuhan.

Penari laki-laki biasanya mengenakan pakaian hitam-putih, sedangkan penari perempuan mengenakan pakaian yang menutup aurat seperti jilbab. Dalam acara tertentu seperti pernikahan, penari perempuan diberikan kostum seragam yang dirancang agar terlihat lebih apik dan menarik.

Tari Langsir Haloban terdiri dari tiga babak: pembukaan, eksebisi, dan penutup. Babak pertama menggambarkan pencarian pasangan, babak kedua menjalin pertemanan, dan babak ketiga merupakan gerakan akhir dan perpisahan.

Dalam Tari Langsir versi Asantola, terdapat empat formasi gerak yang menjadi pola lantai: formasi berbaris, lingkaran, empat wajik, dan kincir. Setiap babak memiliki 32 ragam gerak dengan pola repetisi variatif.

Dalam Tari Langsir Haloban, terdapat Komandir yang memimpin tarian melalui perintah. Komandir ini memiliki skenario tersendiri untuk merangkai tarian, dan perbedaan skenario ini menjadi ciri khas setiap tari Langsir.

Perintah Komandir dalam Tari Langsir cukup unik, menggunakan kosakata Belanda dan Inggris seperti dames, meneer, last try, dan rom van drum, serta beberapa kata yang tidak diketahui asal-usulnya.

Tari Langsir Haloban memiliki nilai penting bagi etnis Haloban di Kepulauan Banyak Barat, mencerminkan nilai sejarah, estetika, pendidikan, religiusitas, serta kebersamaan dan kerukunan. Tarian ini menjadi bukti keberadaan etnis Haloban yang terbentuk dari proses asimilasi dan adaptasi dinamis dari generasi ke generasi.

Dharma Kelana Putra, peneliti Tari Langsir dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh, menyatakan bahwa Tari Langsir Haloban tidak hanya ditujukan untuk menghibur, tetapi juga memiliki nilai estetika tinggi dari segi gerak, irama, ruang, dan waktu. Gerakan yang dinamis dan atraktif menunjukkan keindahan dan makna tarian tersebut, menjadikannya seni yang kaya akan nilai budaya.(Adv)

 

 

 

NiagaHoster