Banda Aceh – Tari Ratoh Jaroe merupakan tarian tradisional Aceh yang dilakukan oleh penari wanita dalam posisi duduk, menampilkan gerakan tangan dan tubuh yang kompak diiringi syair pujian dalam bahasa Aceh, sering kali disalahpahami sebagai Tari Saman.
Namun sebenarnya sebagai kreasi turunan yang menekankan kebersamaan, spiritualitas, dan keanggunan perempuan Aceh, serta berfungsi sebagai hiburan dan media dakwah. Tarian ini melibatkan syair Islami, iringan alat musik rapai (tabuh), dan kostum warna-warni yang khas, berbeda dengan Saman yang diiringi tepukan tangan tanpa musik dan kostum Gayo.

Tarian Ratoh Jaroe diciptakan oleh Yusri Saleh, yang lebih dikenal dengan nama Dek Gam, seorang seniman asal Aceh yang merantau ke Jakarta pada awal 2000-an. Nama “Ratoh Jaroe” berasal dari kata “ratoh” yang berarti berkata atau berbincang, dan “jaroe” yang berarti jari tangan dalam bahasa Aceh.
Secara etimologis, tarian ini menggambarkan cerita atau zikir yang diungkapkan melalui gerakan tangan yang ritmis dan kompak. Dek Gam mengembangkan tarian ini dengan menggabungkan elemen-elemen dari beberapa tarian tradisional Aceh, seperti Likok Pulo, Rapai Geleng, Rateb Meuseukat, dan Ratoh Duek.
Tarian ini awalnya dirancang untuk membangkitkan semangat masyarakat Aceh yang sedang pulih dari konflik dan bencana alam, khususnya tsunami 2004. Menurut Ensiklopedia Jakarta, Ratoh Jaroe lahir dari keprihatinan Dek Gam terhadap minimnya representasi tarian duduk Aceh di Jakarta, yang saat itu hanya dikenal sebagai Rampai Aceh tanpa iringan alat musik rapai.
Pada 2000-an, Dek Gam dipercaya menjadi pelatih tari di Anjungan Aceh di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kesuksesannya sebagai koreografer terbaik dalam parade tari nasional di TMII menjadi titik awal popularitas Ratoh Jaroe. Tarian ini kemudian berkembang pesat, bahkan menjadi ekstrakurikuler favorit di banyak sekolah di Jakarta dan daerah lain di Indonesia.
Pada 2011, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengakui Ratoh Jaroe sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, bersama dengan Tari Saman. Puncak ketenaran tarian ini terjadi pada pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta, ketika 1.600 penari perempuan dari berbagai SMA di Jakarta menampilkan Ratoh Jaroe secara kolosal, memukau jutaan penonton di seluruh dunia.
Ratoh Jaroe bukan sekadar tarian, tetapi juga representasi nilai-nilai budaya dan semangat masyarakat Aceh, khususnya perempuan. Tarian ini mencerminkan kekompakan, keberanian, dan semangat pantang menyerah, yang menjadi ciri khas wanita Aceh. Gerakan tangan yang cepat, tegas, dan serempak, diiringi alunan musik rapai dan syair Islami, menciptakan harmoni yang memukau.
Penari, yang semuanya perempuan dan berjumlah genap, menampilkan gerakan tangan, tubuh, dan kepala yang sinkron. Gerakan ini mencakup tepukan tangan, jentikan jari, dan hentakan tubuh dalam formasi duduk atau berlutut.
Alat musik rapai, sejenis perkusi mirip rebana, menjadi pengiring utama. Rapai dimainkan oleh seorang syahi, yang juga bertindak sebagai vokalis menyanyikan syair berbahasa Aceh yang berisi pujian kepada Allah dan nasihat moral.
Penari mengenakan baju kurung berwarna cerah, seperti merah, hijau, atau kuning, yang dipadukan dengan kain songket Aceh. Jilbab dan ikat kepala berwarna senada menambah keanggunan visual tanpa properti tambahan yang rumit.
Menurut penelitian Riska Gebrina (2018), Ratoh Jaroe berfungsi sebagai media dakwah, menyampaikan nilai-nilai keagamaan, sopan santun, dan kebersamaan melalui gerakan dan syair. Tarian ini sering disamakan dengan Tari Saman, tetapi memiliki perbedaan signifikan.
Tari Saman lebih menonjolkan gerakan badan dan bisa dibawakan oleh laki-laki, sedangkan Ratoh Jaroe berfokus pada gerakan tangan dan hanya ditarikan oleh perempuan. Ratoh Jaroe bukan hanya seni pertunjukan, tetapi juga simbol kebangkitan dan ketangguhan masyarakat Aceh.
Tarian ini menjadi media untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam, kebersamaan, dan semangat juang melalui gerakan dan syair. Kehadirannya di berbagai acara nasional dan internasional, seperti Asian Games 2018 dan kini di platform Apple, menegaskan posisinya sebagai ikon budaya Aceh yang mendunia.
Pemerintah Aceh, melalui Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), aktif mempromosikan Ratoh Jaroe sebagai bagian dari potensi seni dan budaya daerah. Pada 2019, BPPA bahkan merencanakan pengembangan tarian ini ke wilayah lain seperti Kalimantan dan Sulawesi, menunjukkan komitmen untuk melestarikan dan memperluas jangkauan budaya Aceh.
Sementara itu, Ttarian Ratoh Jaroe, salah satu warisan budaya dari Nanggroe Aceh Darussalam, kembali menarik perhatian dunia melalui unggahan video di akun Instagram resmi Apple (@apple) baru-baru ini. Video berdurasi 1,5 menit yang direkam menggunakan iPhone 16 Pro Max tersebut menampilkan keindahan gerakan harmonis para penari dengan semangat yang sarat makna.
Produksi video ini melibatkan Agung Pambudi, pendiri Parallel Studio, bersama tim kreator Indonesia, termasuk koreografer Dek Gam, musisi Kasimyn dari duo Gabber Modus Operandi, serta sinematografer Gatut Subowo. Dengan tajuk Music Moves Tradition, mereka memadukan gerakan tradisional Ratoh Jaroe dengan sentuhan musik elektronik modern, menciptakan ekspresi budaya yang segar dan relevan dengan zaman.
Dalam video tersebut, ratusan penari perempuan tampil mengenakan busana hitam dengan kain songket khas Aceh. Gerakan tangan yang sinkron, formasi simetris, dan tata cahaya dramatis semakin menonjolkan keindahan tarian ini. Penggunaan iPhone 16 Pro Max dengan fitur lensa ultra-wide dan perekaman 4K 120fps memungkinkan seluruh detail gerakan tertangkap sempurna tanpa mengganggu jalannya pertunjukan.(Adv)








