SIGLI – Olahraga global yang populer seperti MMA, Sumo, dan lain sebagainya telah mendunia, tetapi siapa yang menduga, ada sebuah olahraga tradisional dari Aceh (provinsi ujung barat Indonesia) yang dijaga dan diwarisi secara turun temurun yakni Geudeu-Geudeu.
Geudeu-Geudeu merupakan olahraga tradisional yang berasal dari Pidie dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Aceh. Geudeu-Geudeu dimainkan oleh kaum laki-laki Pidiesaat mereka mulai mulai beranjak remaja hingga dewasa.
Jika ditelisik dalam kontek sejarahnya, kelahiran geudeu-geudeu berawal dari usaha mengasah ketahanan mental dan jiwa laskar kerajaan. Karena sangat berbahaya, olahraga keras ini tidak pernah memperebutkan juara, karena bisa berakibat fatal.
Tetapi, kini, seni beladiri tradisional Geudeu-geudeu yang telah menjadi tradisi masyarakat Pidie seusai panen padi sejak dahulu kala akan dihidupkan kembali di tengah-tengah masyarakat penghasil kerupuk mulieng tersebut.
Atraksi seni bela diri ini kembali digelar, tetapi bukan di pematang sawah, melainkan saat memperingati HUT Pidie ke-514 pada 17 September 2025 dalam upaya melestarikan kebudayaan tersebut tetap ada dan diketahui oleh masyarakat.
Geudeu-Geudeu yang ditampilkan tersebut bukan pertandingan melainkan hanya atraksi hiburan sebagai wujud melestarikan warisan budaya leluhur, sekaligus untuk menggerakkan para pemuda dan remaja putra untuk melestarikan dan menjaga budaya leluhur Pidie tersebut.
Seni bela diri itu sendiri sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset Republik Indonesia Geudeu-Geudeu yang merupakan permainan bela diri tradisional masyarakat Aceh yang berasal dari Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.
Sementara, pada masanya, ketika masa luah blang atau pascapanen atau juga saat bulan purnama, geudeu-geudeu kerap dipertandingkan dengan pemuda berbadan kekar berbondong-bondong mengikutinya, meski tak ada hadiah selain badan yang lebam.
Hadiahnya nyatanya sering tak berwujud, hanya sebuah kebanggaan belaka yang jadi pemuas bagi petarung yang menang. Adu fisik ini hanya sekedar ‘pleh bren’ alias mengendurkan otot-otot yang tegang melalui pertarungan.
Kebanggaan lainnya, sering pula dianggap perkasa dan menjadi lirikan ujung mata para gadis kampung Geudeu-geudeue yang sekilas mirip dengan Gulat tradisional di India, tidak hanya sekedar pertarungan atau adu kekuatan fisik, tetapi juga merupakan bentuk syukur masyarakat Pidie atas hasil panen yang melimpah.
Permainan Geudeu-Geudeu biasanya dilakukan di atas tumpukan jerami yang dirangkai menjadi matras khusus untuk mencegah cedera, dan tidak menggunakan iringan musik. Dalam Geude-Geude, arena pertandingan berbentuk segi empat dengan luas 25×5 meter.
Pertandingan ini melibatkan dua kelompok petarung: satu orang dari kelompok pertama, yang disebut ureung tueng, dan menantang dua petarung dari kelompok kedua, disebut ureung pok. Ureung tueng bertugas menjatuhkan atau memukul punggung lawan menggunakan telapak tangan dengan kekuatan yang terukur.
Sedangkan ureung pok harus mempertahankan diri dan berusaha membanting lawan sebelum salah satu dari mereka mendapat pukulan dari ureung tueng. Uniknya, ureung tueng bisa memanfaatkan teknik untuk memancing emosi atau melakukan semacam gaya propaganda untuk “melemahkan” mental lawan, seperti Keutrep Jaroe atau gerakan menggertak untuk memancing lawan dan berbagai strategi fisik lainnya.

Sementara, ureung pok, meski terbatas pada teknik membanting dan menghempas sambil berpegangan tangan, harus bekerja sama untuk mempertahankan diri dari serangan dan tangannya tidak boleh lepas selama permainan. Durasi satu babak permainan pun tidak lama, hanya memakan waktu 3-5 menit.
Lazimnya dalam sebuah pertandingan, dipimpin oleh beberapa wasit, yang disebut sebagai ureung seumeugla (juri pelerai) yang biasanya berjumlah empat atau lima orang. Para juri tersebut juga merupakan orang orang yang tangkas dan kuat, sehingga mampu melerai para petarung.
Pun, biasanya yang menjadi ureung seumegla tersebut merupakan para mantan petarung geudeu-geudeu itu sendiri, yang memiliki pengalaman dan insting soal geudeu-geudeu. Seorang wasit geudeu-geudeu bisa melihat apakah petarung itu memukul dengan sikap profesionalisme atau emosional.
Karena antara profesional dan emosional petarung itulah wasit berperan menentukan kapan sebuah pertarungan harus dihentikan. Mantan pemain Geude-Geude, Jabal Nur yang sudah bergelut dengan Gudeu-geudeu sejak usianya masih belasan tahun, mengungkapkan olahraga ini sebagai ajang berkumpul warga yang dinantikan setelah panen padi.
“Geude-Geude adalah kesempatan untuk bersosialisasi dan merayakan kerja keras kami,” ujarnya. Pada masa lalu, kemampuan bermain Geude-Geude bahkan menjadi salah satu kriteria kebanggaan para orang tua dalam memilih suami untuk anaknya.
Maka itu, bagi laki-laki muda, Geudeu-geudeu menjadi ajang unjuk diri bahwa ia merupakan seorang laki-laki yang bisa diandalkan.“Dalam istilah kami itu dulu, disebut ‘sibak agam’ kalau sudah menjadi pemain Geudeu-geudeu,” ungkap Pak Jabal Nur.
Geudeu-Geudeu dirayakan sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras selama masa panen, sehingga menanamkan nilai-nilai penting seperti penghargaan terhadap usaha dan kerja keras dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai ini menunjukkan betapa pentingnya Geudeu-Geudeu tidak hanya sebagai olahraga tetapi juga sebagai media pembelajaran moral dan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di tengah tantangan modernisasi.
Dengan upaya Pemkab Pidie berupaya menghidupkan kembali seni beladiri Geudeu-Geudeu, maka budaya tradisional ini akan dapat berjalan lagi seusai panen padi di sawah dengan munculnya kembali pemuda-pemuda berotot untuk menunjukkan ketangkasannya di arena atas jerami padi.(Adv)








