Rapai Kaoi Tetap Menggema di Tengah-Tengah Masyarakat Aceh Timur

Para pemain Rapai Kaoi memainkan genderang di sebuah rumah warga Aceh Timur. FOTO/SCREENSHOT

IDI – Salah satu kebudayaan tradisional di Aceh, ternyata tetap bergema di tengah-tengah masyarakat Aceh dan untuk melanjutkan seni tersebut terus berlanjut, maka dilaksanakan workshop selama satu hari penuh pada November 2025 lalu.

Kabupaten Aceh Timur yang telah terpisah dari Kota Langsa dan Aceh Tamiang akan terus berupaya melestarikan seni musik tradisi ‘Rapai Kaoi yang tampak mulai terkikis dari masa ke masa dengan perkembangan teknologi semakin canggih.

Pemerintah Kabupaten Aceh Timur didukung Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Timur, melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2025 menggelar workshop musik tradisi “Rapa’i Kaoi” sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan kebudayaan kesenian Aceh pada awal November 2025.

Workshop Rapa’i Kaoi untuk memperkenalkan kembali, sekaligus melatih para generasi muda dan masyarakat umum dalam memainkan instrumen musik tradisional rapa’i dan mengenal kaoi dalam budaya Aceh.

Adapun dalam penyajian materi Rapa’i Kaoi dilakukan secara interaktif yang dilengkapi sesi praktik langsung, sehingga peserta dapat merasakan pengalaman nyata dalam mengembangkan seni musik tradisional ini.

Rapa’i Kaoi diharapkan akan dapat menjadi tonggak penting dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya Aceh yang sarat makna sebagai warisa leluhur, sejarah dan filosofi hidup masyarakat Aceh kepada generasi muda Aceh.

Rapai Kaoy merupakan salah satu jenis alat musik perkusi tradisional Aceh, yang termasuk dalam keluarga frame drum atau rebana. Alat musik ini terbuat dari kayu dan kulit binatang, biasanya kulit kambing atau kerbau, dan dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan kosong.

Rapai Kaoi dalam sebuah acara keluarga di Aceh Timur. FOTO/SCREENSHOT

Rapai Kaoy, seperti jenis rapai lainnya, memiliki peran penting dalam kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Aceh. Awalnya, kesenian rapai erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam, di mana syair-syair keagamaan dilantunkan bersama iringan musik.

Sebagai pengiring kesenian tradisional, maka berfungsi sebagai pengatur ritme dan tempo dalam tarian dan pertunjukan seni Aceh, membuat suasana menjadi hidup. Rapai satu ini juga digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran agama, menanamkan nilai-nilai moral, dan menjelaskan kehidupan sosial melalui lirik dan pertunjukan.

Bukan itu, ritual dan seni pertunjukan ini mengalami transformasi, dari awalnya digunakan dalam konteks ritual menjadi seni pertunjukan yang sering ditampilkan dalam acara adat, festival pariwisata, dan perayaan.

Rapai merupakan simbol penting dari identitas, spiritualitas, dan persatuan masyarakat Aceh. Di Aceh, terdapat berbagai jenis Rapai dengan fungsi dan konteks yang berbeda, antara lain:
Rapai Pasee atau Rapai Gantung, Rapai Daboih yag sering dikaitkan dengan ilmu metafisik atau kekebalan.

Kemudian, Rapai Geleng mengiringi tarian dinamis yang populer di Aceh Barat Daya dan Rapai Pulot serta Rapai Kaoi yang terus diupayakan tetap eksis dalam masyarakat Aceh Timur.(Adv)

NiagaHoster