Opini  

Apakah Kita Masih Peduli dengan Budaya Lokal?

Siti Fazilla, Mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry, Angkatan 22

APAKAH kita masih peduli dengan budaya lokal? Pertanyaan itu merupakan refleksi kritis terhadap identitas kolektif di era globalisasi dan digitalisasi. Opini saya adalah bahwa kepedulian tersebut masih ada, namun telah mengalami pergeseran bentuk dan prioritas. Di satu sisi, arus informasi global membawa tantangan serius terhadap pelestarian warisan tradisional, tetapi di sisi lain, teknologi menawarkan peluang baru bagi revitalisasi dan ekspresi kebanggaan budaya yang belum pernah ada sebelumnya.

Ancaman terbesar bagi budaya lokal adalah dominasi budaya populer dari Barat dan Asia Timur, yang membanjiri ruang digital dan media massa. Generasi muda saat ini tumbuh dengan paparan tren, bahasa, dan gaya hidup global yang jauh lebih intens dibandingkan dengan narasi lokal mereka sendiri. Akibatnya, nilai-nilai, ritual, dan produk budaya tradisional sering kali dianggap kurang relevan atau ketinggalan zaman, yang secara perlahan mengikis pengetahuan dan praktik budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ini diperparah dengan perubahan gaya hidup urban yang menyebabkan banyak praktik adat yang membutuhkan waktu dan komunitas menjadi sulit dilakukan.

Namun, kepedulian baru muncul melalui saluran yang tidak terduga, yaitu media sosial dan platform digital. Anak muda kini menggunakan platform seperti TikTok dan YouTube untuk merekontekstualisasi budaya mereka. Mereka menciptakan re-mix musik daerah, menggunakan kain tradisional dalam fashion street style kontemporer, atau mempopulerkan kuliner lokal melalui konten video yang menarik. Upaya ini mengubah budaya lokal dari sesuatu yang “diwariskan” menjadi sesuatu yang “dipilih” dan “diekspresikan” dengan bangga, menjadikannya menarik bagi audiens sebaya dan global.

Kepedulian ini juga tercermin dalam tren inovasi dan fusi di berbagai sektor. Para perancang busana, musisi, dan seniman berani mengawinkan elemen tradisional dengan estetika modern. Batik, misalnya, tidak lagi terbatas pada pakaian formal, tetapi telah bertransformasi menjadi motif kasual dan aksesori kontemporer. Fusi ini menunjukkan bahwa kepedulian tidak harus berarti mempertahankan budaya dalam bentuk murni yang statis, melainkan menjadikannya dinamis, adaptif, dan berkelanjutan secara ekonomi. Dengan memberikan nilai tambah ekonomi, pelestarian budaya menjadi lebih menarik dan praktis.

Selain itu, adanya peningkatan kesadaran tentang identitas diri dan pariwisata berbasis pengalaman juga menumbuhkan kepedulian. Banyak individu, terutama di tengah keriuhan global, merasa perlu untuk “kembali ke akar” sebagai jangkar identitas. Mereka aktif mencari pengalaman otentik, mengunjungi desa adat, atau mempelajari kerajinan lokal. Permintaan pasar domestik maupun internasional untuk pariwisata budaya memberikan dorongan ekonomi yang signifikan bagi komunitas lokal untuk terus melestarikan warisan mereka.

Kepedulian terhadap budaya lokal tidak hilang, melainkan bertransformasi dari ketaatan pasif menjadi partisipasi aktif dan kreatif. Tantangannya ke depan adalah bagaimana lembaga pendidikan dan pemangku kepentingan dapat menjembatani jurang antara warisan masa lalu dengan ekspresi modern, memastikan bahwa esensi filosofis budaya tidak hilang dalam proses digitalisasi dan komersialisasi. Kita peduli, dan kepedulian kita kini diwujudkan melalui adaptasi yang cerdas untuk menjamin relevansi budaya di masa depan.(**)

Oleh: Siti Fazilla, Mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry, Angkatan 22

NiagaHoster