oketrend.id, Kota Jantho – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar kegiatan “Aku Hebat!” untuk mengenalkan minat dan bakat serta membangun kepercayaan diri siswa SD Negeri Garot, Aceh Besar, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan yang diikuti 30 siswa kelas III B tersebut merupakan proyek akhir mata kuliah Komunikasi Pemasaran Sosial yang dibimbing oleh dosen pengampu, Putri Munawwarah. Rangkaian kegiatan meliputi pemaparan materi, pemutaran video edukasi, serta praktik membuat origami bersama siswa.
Ketua panitia, Abizard Hasbiya Hanif, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh perbedaan minat, bakat, dan potensi yang dimiliki setiap anak. Namun, tidak semua anak menyadari kelebihan yang ada pada dirinya.
Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu anak-anak mengenali potensi dirinya, tidak membandingkan diri dengan orang lain, serta berani menunjukkan kemampuan yang mereka miliki,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong siswa untuk lebih berani menyampaikan pendapat, mencoba hal baru, serta menghargai kelebihan diri sendiri maupun orang lain.
Sementara itu, Shaumi Maqfira, selaku pemateri praktik origami mengatakan bahwa kegiatan tersebut dipilih agar siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Metode ini disesuaikan dengan karakteristik siswa kelas III SD yang membutuhkan kegiatan sederhana, menyenangkan dan mudah dipahami.
Praktik origami dilakukan dengan membuat bentuk burung. Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak mengikuti instruksi, memperhatikan setiap tahapan, serta melipat kertas hingga menghasilkan karya sendiri.
Menurut Shaumi, praktik origami dapat menjadi salah satu cara untuk mengenali potensi anak karena setiap siswa memiliki kemampuan dan cara belajar yang berbeda. Kegiatan ini juga dapat melatih kreativitas, ketelitian, kesabaran, koordinasi mata dan tangan, serta kemampuan memecahkan masalah.
“Tujuan kami bukan untuk menilai siapa yang paling bagus membuat origami, melainkan memberikan ruang bagi setiap anak untuk mencoba, berproses, dan menyadari bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda,” pungkasnya.(Tamam)








