oketrend.id, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengandalkan Bendungan Rukoh untuk mengurangi risiko banjir di Kabupaten Pidie, Aceh.
Infrastruktur tersebut juga mendukung ketahanan pangan melalui penyediaan air bagi ribuan hektare lahan pertanian.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan bendungan merupakan investasi jangka panjang untuk mengelola sumber daya air. Menurut Dody, pemanfaatannya mencakup penyediaan air irigasi, air baku, energi, serta perlindungan kawasan hilir dari ancaman banjir.
“Betapa pentingnya pekerjaan mengelola air. Air yang tertampung di bendungan harus menjadi irigasi, air baku, energi, serta perlindungan bagi kawasan hilir dari banjir,” kata Menteri Dody dalam keterangan tertulis yang dikutip, Jumat (17/7/2026).
Bendungan Rukoh ini memiliki kapasitas tampung 128,65 juta meter kubik dengan luas genangan sekitar 687 hektare. Infrastruktur tersebut dirancang membantu pengendalian banjir periode ulang 50 tahunan di wilayah Kabupaten Pidie.
Pengaturan debit aliran sungai melalui bendungan diharapkan mampu mengendalikan limpasan air menuju kawasan hilir. Fungsi tersebut semakin penting menghadapi cuaca ekstrem dan risiko bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim.
Selain pengendalian banjir, Bendungan Rukoh juga mendukung pengairan Daerah Irigasi Baro Raya seluas 12.194 hektare. Dody menilai layanan irigasi tersebut terutama menjangkau lahan pertanian di Kecamatan Keumala dan Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie.
“Bendungan kita sebut sebagai irigasi premium, yaitu irigasi yang ketersediaan airnya dijamin oleh bendungan. Jadi kalau ada bendungan dan ada sistem irigasinya, kita bisa mengharapkan tiga kali musim tanam,” ujar Menteri Dody.
Menteri PU menyebut, kehadiran bendungan ini juga diproyeksikan meningkatkan Indeks Pertanaman dari 191 persen menjadi 300 persen setiap tahunnya.
Peningkatan tersebut, lanjutnya, memungkinkan lahan pertanian yang sebelumnya ditanami dua kali menjadi tiga kali setahun.
Produksi pertanian juga diproyeksikan mencapai sekitar enam ton per hektare melalui peningkatan ketersediaan air irigasi. Pemerintah berharap peningkatan produktivitas tersebut memperkuat kontribusi Aceh terhadap program swasembada pangan nasional.
Selain itu, Bendungan Rukoh juga mampu menyediakan air baku sebesar 900 liter per detik bagi masyarakat sekitar. Pasokan tersebut diproyeksikan melayani sekitar 22.848 jiwa di Kecamatan Titeue dan wilayah sekitarnya.
Tidak hanya itu, bendungan memiliki potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 140 megawatt untuk mendukung energi terbarukan. Potensi lainnya berupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dengan kapasitas sebesar 1,22 megawatt.
Bendungan Rukoh dibangun secara bertahap selama periode 2018–2024 dengan anggaran sekitar Rp1,7 triliun. Bendungan tersebut telah diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat, 10 Juli 2026.
Bendungan Rukoh menjadi infrastruktur strategis Kementerian PU dalam mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Infrastruktur tersebut sekaligus memperkuat ketahanan pangan, ketahanan air, serta ketangguhan masyarakat Aceh menghadapi bencana hidrometeorologi.(Muh/*)








