Tari Gelombang Dua Bale Singkil, Seni Beladiri Silat Sambut Tamu

Ilustrasi tari Gelombang Dua Bale. FOTO/SCREENSHOT

Singkil – Kesenian tradisional Tari Gelombang Dua Bale merupakan tarian adat berupa seni bela diri dalam penyambutan tamu dari daerah, peserta perkawinan dan acara adat lainnya di Aceh Singkil dan juga dikenal dalam budaya Minangkabau Tarian ini bagian penting dari upacara adat, meskipun keberadaannya kini dikabarkan mulai punah di beberapa daerah.

Tarian ini berasal dari Aceh Singkil, dan juga memiliki akar budaya yang kuat di Minangkabau, Sumatera Barat. Fungsi utama tarian ini sebagai tari penyambutan untuk menghormati tamu kehormatan yang datang ke suatu acara atau nagari (desa).

Gerakan penghormatan ini menunjukkan rasa senang dan keramahan terhadap tamu. Secara tradisional, tarian ini ditarikan oleh 12 penari laki-laki atau sesuai dengan namanya “Duo Baleh” yang berarti dua belas.

Namun, dalam perkembangannya, tarian ini dapat dikembangkan dan ditarikan oleh kelompok campuran laki-laki dan perempuan. Gerakan dalam tari Gelombang ini melambangkan tradisi masyarakat dalam menyambut tamu.

Tarian ini sering dikaitkan dengan gerakan silat atau seni bela diri tradisional (Silek), yang dibawa oleh guru silat atau ulama. Pola lantai tari Galombang Duo Baleh umumnya terdiri dari dua baris lurus.

Seiring identik dengan Minangkabau, penari mengenakan pakaian serba warna kuning, termasuk rumah untuk mempelai wanita dalam sebuah adat perkawinan di Aceh Singkil. Seperti Kemukiman Gosong Telaga, Singkil Utara, pelaksanaan pesta perkawinan agak berbeda dengan kalangan masyarakat biasa.

Jika kalangan “penguasa lokal” itu berhelat, diperbolehkan pemangku adat mengenakan pakaian dan menghias plus menata rumah dengan warna serba kuning. Menurut adat setempat, warna kuning itu identik dengan pakaian raja.

Lebih istimewa lagi, kepada mereka juga diberikan hak memasang sampangan 12 atau gala sembilan serta diizinkan pula menggelar tari-tarian adat, yakni tari galombang duo bale atau gelombang dua belas.

Dalam adat istiadat baralek di Kemukiman Gosong Telaga, ada satu acara yang sangat sakral, yaitu mengantar pengantin pria (marapule) ke rumah pengantin wanita (anak daro). Istilah adat setempat disebut, maantek marapule ke rumah anak daro.

Ketika marapule diantar ke rumah dara daro, lazim terlebih dahulu, si marapule diarak dari kediamannya, dibarengi tabuhan gendang sembari nyanyian lagu-lagu berirama dampeng. Saat perarakan berlangsung, ‘raja sehari’ ini mengenakan pakaian “kebesarannya”. Kepalanya dipakaikan mahkota, berbentuk deta atau destar.

Ada juga berkopiah ala panglima, sama seperti di kawasan pesisir timur Aceh, mengenakan kupiah meukutop dengan baju kebesarannya berkhaskan Aceh yang juga dilengkapi berbagai aksesoris seperti rencong di pinggang.

Sedangkan busana bagian atas linto baro menggunakan baju raja atau penghulu, berkerah V dan bagian bawahnya menggunakan sarawa (celana). Di bagian atas dilengkapi hiasan berupa selendang merah dengan hiasan rajutan benang yang biasanya berwarna emas. Kemudian di bagian pinggang dihiasi kain sandang dan ikat pinggang berbahan sutra bernama cawek.

Aksesoris lain yang dikenakan ialah keris yang diselipkan di pinggang dan payung kuning emas dengan pernak-pernik rumbai-rumbai. Biasanya, payung ini dibuka dan dipegang langsung marapule.

Saat arak-arakan berlangsung, tidak jarang mengitari perkampungan, marapule betul-betul seperti raja diraja. Ia penuh wibawa, gagah, dan perkasa. Sedangkan pasukan pengarak dan pengiring yang berada belakang marapule, berpakaian serba hitam, semacam baju pendekar silat yang mau bertarung.

Ada pula pengiring lainnya yang mengenakan kemeja biasa (bukan kaus oblong) dengan menyandang kain sarung di pundak sebelah kanan. Setelah Marapule atau linto baro sampai di lokasi rumah dara daro, tepatnya di pekarangan rumah, dipersembahkanlah tari galombang duo bale.

Sejenis tari yang bersimbolkan pasukan pengawal atau pelindung terhadap keluarga anak daro sang ratu dan marapule sang raja. Gerakan tari ini, diawali dengan dua pasukan yang maju ke depan, satu pasukan sebagai pengawal marapule menuju rumah anak daro.

Satu pasukan lagi sebagai penanti yang menyambut kedatangan marapule dan rombongannya sekaligus sebagai pengawal kediaman anak daro. Mereka saling berhadapan, seperti pasukan yang mau berkelahi.

Sementara di tengah kedua pasukan berjalan marapule dengan langkah pelan, pasti tapi taktis. Lalu sejurus kemudian, kedua kelompok penari melangkahkan kaki yang dipadukan dengan gerakan mengangkat tangan memberi hormat.

Tari Gelombang Dua Bale dalam menyambut kedatangan linto baro di Aceh Singkil. FOTO/SCREENSHOT

Kemudian divariasikan dengan gerakan riak-riak gelombang laut yang dikomandoi seorang pemimpin yang berada di depan. Setelah mendengar komando, pendekar atau para penari ini bertepuk tangan ketika hendak melangkah maju. Bergerak mengembang lepas dengan tangan terbuka. Jari-jemari melentik sembari badan merendah ketika kaki melebar.

Selanjutnya, meninggi sambil mengangkat sebelah kaki hampir setinggi lutut, setelah itu, kaki dilangkahkan sambil menghentakkan tumit. Keseluruhan tari-tarian galombang duo bale ini, lebih dominan unsur silatnya.

Biasanya, tarian ini juga digelar pada saat penyambutan tamu terhormat yang berkunjung. Namunsekarang tari galombang duo bale dalam acara perhelatan termasuk dalam menyambut tamu mulai ditinggalkan.

Hanya sebagian orang yang mampu melaksanakannya, termasuk di bagian wilayah Aceh lainnya dengan skema yang hampir sama dengan Aceh Singkil, sebuah adat kebesaran untuk mewujudkan seorang pria seolah-olah sebagai raja sehari dan sang wanita juga sebagai ratu sehari.(Adv)

NiagaHoster