oketrend.id – Di tengah riuhnya arus informasi digital, kita menyaksikan satu fenomena yang kian meresahkan: runtuhnya etika dalam bermedia. Media penyiaran dan media sosial yang sejatinya menjadi ruang edukasi dan informasi kini justru seringkali menjadi arena pertarungan kepentingan, sensasi, dan misinformasi. Transformasi besar-besaran yang dialami dunia media dalam dua dekade terakhir telah menggeser peran, nilai, dan orientasi dari fungsi idealnya.
Perubahan peran media penyiaran dari institusi mencari kebenaran menjadi pelayan algoritma dan pasar adalah awal dari kemunduruan ini. Dalam dinamika digital, media arus utama terpaksa beradaptasi dengan logika media sosial: Kecepatan mengalahkan akurasi, popularitas lebih utama dari kualitas. Televisi, radio, dan bahkan portal berita kini berlomba menyesuaikan judul, format, dan isi dengan selera pasar yang digerakkan oleh klik dan tayangan (Eriyanto, 2022). Akibatnya, konten yang disajikan menjadi dangkal dan minim substansi.
Sementara itu, media sosial memperparah keadaan. Siapa pun kini bisa menjadi “wartawan dadakan” tanpa bekal etika jurnalistik. Informasi palsu, teori konspirasi, hingga fitnah bersileweran setiap hari di beranda digital kita. Fenomena “citizen journalism “ yang semula dipandang sebagai perluasan partisipasi publik, berubah menjadi boomerang yang mengerus batas antara fakta dan opini, antara kebenaran dan sensasi (Wardle & Derakhshan, 2017)
Pengkerdilan atas kebenaran informasi menjadi efek domino dari semua ini. Kebenaran tidak lagi dilihat sebagai hasil dari proses jurnalistik yang Panjang, melainkan sekadar persepsi Masyarakat yang viral. Berita hoaks bisa terasa benar hanya karena diulang-ulang dan dikomentari banyak orang. Masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan mana fakta dan mana opini, mana berita dan mana propaganda, ini menimbulkan apa yang disebut Neil Postman (1985) sebagai “kebohongan yang menyenangkan”. Di zaman yang serba cepat dan serba “harus menyenangkan”, kebohongan bukan lagi hal tabu. Bahkan, ada jenis kebohongan yang justru dianggap mulia karena tujuannya baik: menjaga perasaan, menghindari pertengkaran, atau sekadar membuat suasana tetap nyaman. Fenomena ini dikenal sebagai“kebohongan yang menyenangkan” atau yang lazim disebut white lies.
Islam sangat tegas dalam melarang segala bentuk kebohongan, sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadis Nabi Muhammad ﷺ. Salah satunya:“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga… dan sesungguhnya kebohongan membawa kepada kefasikan, dan kefasikan membawa ke neraka…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Banyak orang berpendapat, selama niatnya baik, kebohongan itu bisa diterima. Tapi masalahnya, niat baik tidak menghapus fakta bahwa itu tetap kebohongan. Lama-lama, dusta kecil menjadi kebiasaan. Dari yang awalnya untuk menjaga suasana, berubah menjadi cara hidup yang penuh kepura-puraan. Memang, ada pengecualian dalam Islam. Dalam beberapa kondisi khusus — seperti dalam peperangan, mendamaikan orang yang bertikai, atau mempererat hubungan suami-istri — berbohong diizinkan. Tapi itu bukan justifikasi umum, melainkan pengecualian yang sangat sempit.
Lebih jauh, krisis ini juga berdampak pada generasi muda yang lahir dan tumbuh dalam ekosistem informasi serba instan. Diantara mereka, tersebar ilusi bahwa menjadi viral lebih penting daripada menjadi benar, dan menjadi menarik lebih utama daripada menjadi jujur. Mereka terbiasa dengan narasi yang terfragmentasi, dikemas dalam potongan-potongan singkat yang emosional namun dangkal. Literasi kritis mereka terancam oleh banjir informasi tanpa kurasi. Jika ini dibiarkan, maka bangsa ini akan menghadapi generasi yang aktif bermedia tapi pasif berpikir, cakap bersuara tapi rapuh dalam mendengar dan menganalisis. Maka menjadi penting bagi semua pihak untuk bersama-sama membangun Kembali landasan etika dalam bermedia. Kita tak hanya butuh media yang cepat dan menarik, tetapi juga yang cerdas, beradab, dan bertanggung jawab.
Kebohongan yang menyenangkan hanyalah manis di permukaan. Di baliknya tersembunyi potensi kerusakan: hilangnya kepercayaan, lunturnya nilai, dan berkembangnya budaya kepalsuan. Maka, saatnya kita kembali memuliakan kejujuran. Bukan berarti harus menyakitkan, tapi menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak. Kejujuran mungkin tidak selalu membuat semua orang senang, tapi ia akan selalu membuat hati tenang. Maka pertanyaan nya, akankah kita terus membiarkan etika runtuh dalam kebohongan ?
Penulis : Acik Nova Mahasiswa Jurusan Pascasarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Ar-Raniry



