JAKARTA — Pemerintah menyebut nilai tukar rupiah masih tetap terjaga cukup baik. Tren penguatan rupiah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir diprediksi terus berlanjut.
Pada perdagangan Selasa (21/11/2023), rupiah ditutup menguat lima poin ke level 15.440 per dolar AS. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, ketahanan nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
“Kurs Indonesia tetap terjaga cukup kuat. Dalam kondisi apresiasi, padahal ada ketidakpastian global,” ujarnya saat webinar BTPN Economic Outlook 2024 di Jakarta, Rabu (22/11/2023).

Febrio menyebut seiring dengan dana asing yang kembali masuk ke Indonesia pada awal hingga pertengahan November 2023. Hal ini menunjukkan bahwa investor percaya dengan kinerja maupun prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dan tingkat inflasi yang terjaga.
Febrio menegaskan, depan pemerintah berupaya menjaga stabilitas ekonomi makro. Hal ini seiring otoritas fiskal juga akan berusaha memberi kondisi yang kondusif bagi sektor riil.
Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra mengatakan, pelaku pasar masih menanti kepastian mengenai perkembangan suku bunga acuan the Fed. Penguatan rupiah akan ditopang sentimen hasil rapat bank sentral AS terkait suku bunga.
“Notulen rapat bank sentral AS mengindikasikan the Fed belum akan menaikkan suku bunga acuannya ke depan karena inflasi AS menurun,” kata Ariston.
Meskipun demikian, the Fed masih tetap membuka peluang kenaikan bila data-data terutama data inflasi mendukung. Pada Oktober lalu, bank sentral Amerika Serikat tetap mempertahankan suku bunganya berada level 5,25 persen-5,5 persen.
Selain itu, data penjualan rumah existing di Amerika Serikat pada Oktober menunjukkan penurunan sebesar 4,1 persen lebih rendah dari penurunan bulan sebelumnya sebesar 2,2 persen. Penurunan ini akibat suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
“Pelemahan sektor perumahan bisa membantu menurunkan inflasi AS ke depannya,” ujarnya.
Ariston dalam kesempatan terpisah mengatakan, pemerintah harus terus memperkuat ketahanan eksternal. Itu bisa dilakukan dengan meningkatkan kinerja ekspor.
“Untuk meningkatkan ketahanan eksternal, dengan meningkatkan kinerja ekspor sehingga surplus neraca perdagangan bisa bertahan dan meningkatkan daya tarik investasi sehingga asing mau menanamkan modalnya ke Indonesia,” kata Ariston.

Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2023 mencapai 3,48 miliar dolar AS lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada September 2023 sebesar 3,41 miliar dolar AS.
Surplus neraca perdagangan tersebut utamanya ditopang oleh berlanjutnya surplus neraca perdagangan nonmigas yang mencapai 5,31 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan capaian pada bulan sebelumnya sebesar 5,33 miliar dolar AS.
Kinerja positif tersebut didukung oleh tetap kuatnya ekspor nonmigas terutama komoditas batu bara, produk logam mulia dan perhiasan, serta produk manufaktur alas kaki dan besi baja.
Ariston menuturkan, produk-produk ekspor ke depan seharusnya bukan lagi dalam bentuk bahan mentah saja, melainkan berupa barang bernilai tambah tinggi sehingga memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia.
“Kinerja ekspor tentu tidak bergantung pada ekspor raw material saja, porsi produksi barang yang punya nilai tambah dalam ekspor ditingkatkan,” ujarnya.
Untuk itu, pemerintah harus mampu memaksimalkan pemanfaatan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk mengolah sumber daya alam (SDA) dari bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi terutama melalui hilirisasi industri.
Di samping itu, iklim investasi juga harus semakin menarik bagi para investor dengan kebijakan-kebijakan yang mempermudah investor mengembangkan usahanya di Indonesia.
Menurut Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi sepanjang kuartal III 2023 mencapai Rp 374,4 triliun, tumbuh 21,6 persen dibandingkan capaian periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Capaian realisasi investasi sepanjang Juli-September 2023 itu tumbuh 7 persen dibandingkan capaian pada triwulan sebelumnya (q to q) dan berhasil menyerap 516.467 orang tenaga kerja Indonesia (TKI).
(Republika.co.id)








