Banda Aceh – Dalam rangka percepatan penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi, Dinas Kesehatan Banda Aceh bersama Unicef dan Lembaga Seuramoe Rakan Pembangunan menggelar pertemuan desiminasi hasil Audit Maternal Perinatal Surveilans dan Respon (AMP-SR) di Aula Ibnu Sina, Kamis (15/06/2023).
Turut hadir pada kegiatan Desiminasi AMP-SR Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh Lukman didampingi oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Syukriah, 11 orang Bikor Puskesmas Se-Kota Banda Aceh, 12 orang penanggung jawab AMP-SR dan lima orang organisasi profesi PODI, IDAI, IDI, IBI dan PPNI.
Kepala Dinkes Banda Aceh Lukman menjelaskan bahwa AMP merupakan serangkaian kegiatan penelusuran penyebab kesakitan dan kematian ibu dan anak yang tujuan menentukan sebab dan faktor terkait dalam kesakitan dan kematian ibu dan perinatal, sekaligus menentukan jenis intervensi dan pembinaan yang diperlukan.
Selanjutnya, berdasarkan data kematian ibu dan anak di Kota Banda Aceh periode Januari s/d Juni 2023, terdapat 4 kasus kematian ibu dan 6 kasus kematian anak yang diantaranya Neonatus 3 kasus, bayi 1 kasus, lahir mati 1 kasus dan balita 1 kasus.
“Dengan adanya kegiatan ini, penyebab kematian dan faktor yang berkontribusi dapat diidentifikasi dan dikaji secara subjektif dan komprehensif dan hasilnya dijadikan evaluasi sehingga disusun rekomendasi dan rencana aksi yang terukur, kemudian dapat memberikan kontribusi positif sehingga pada gilirannya dapat menekan dan menurunkan angka kematian ibu dan bayi,” harap Lukman.
Kemudian, Pemateri/Narasumber Cut Nonda Maracilu menerangkan bahwa AMP-SR merupakan kegiatan menganalisis secara mendalam untuk mencari akar permasalahan dan rekomendasi atau solusi baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang yang dapat dilakukan untuk mengurangi AKI dan AKB.
Kata Cut Nonda, kegiatan AMP-SR telah banyak mendorong perubahan kebijakan-kebijakan lokal serta perbaikan kualitas pelayanan kesehatan maternal perinatal bahkan dalam situasi keterbatasan sekalipun.
Namun, pada saat AMP-SR hanya mencakup penyebab kematian maternal langsung, kematian-kematian ibu yang tidak langsung kemungkinan besar tidak teridentifikasi dan tidak terlaporkan sehingga data rutin yang ada cenderung underreporting.
Selanjutnya, Pemateri Henni Hastuti turut menjelaskan bahwa AMP-SR adalah upaya dalam penilaian pelaksanaan serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir melalui pembahasan kasus kematian ibu dan bayi baru lahir sejak di masyarakat sampai di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Kendala yang timbul dalam upaya penyelamatan ibu dan bayi baru lahir akan dapat menghasilkan suatu rekomendasi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di masa datang,” tuturnya.
Henni berharap, pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan masyarakat sendiri dapat merespon hasil desiminasi saat ini, agar secara bersama-sama dapat menekan angka kematian ibu dan bayi.(TM/Hz)










