Tari Lenggok Putri Kipas Maranao dari Aceh Singkil, Kisah Seorang Pangeran dan Putri Mindanau

Ilustrasi Tari Lenggok Putri Kipas Maranao asal Mindanao, Filipina. FOTO/SCREENSHOT

Singkil – Kabupaten Aceh Singkil juga memiliki hubungan budaya dengan etnis Muslim Maranao, Mindanau di Danau Lanao, Filipina melalui tari Lenggok Putri Kipas Maranao yang mengisahkan perjuangan seorang pangeran dan putri raja.

Tarian Singkil ini dibawakan oleh 10 penari, lima laki-laki dan lima perempuan dan secara luas, tarian ini dikenal dengan sebutan tarian keranjang seorang pangeran dan seorang putri raja. Lima perempuan yang mengenakan pakaian khas daerah setempat, masing-masing memegang dua kipas besar.

Sedangkan lima pria, empat di antaranya memegang batang bambu dan seorang lainnya bertindak sebagai pangeran. Diawali dengan permainan bambu bersilangan yang dimasuki oleh kaki putri yang keluar masuk terus dimainkan.

Sang putri melenggak-lenggok sembari terus memainkan kedua kipas di tangannya. Saat sang putri bergerak lincah seperti menenun di sela-sela silangan mambu yang terus-menerus dibuka dan ditutup layaknya alat tenun, para dayang berdiri dengan formasi artistik dan tidak bergerak sama sekali.

Kemudian muncul pangeran yang di tangan kirinya memegang perisai, dan tangan kanan mengibas-ngibaskan pedang dengan gerak ritmik indah namun tetap jantan. Dia menari-menari seperti sang putri, berlenggak-lenggok di antara batang bambu yang terus digerakkaan seperti laju alat tenun.

Sekitar dua menit pangeran menari, sang putri masuk kembali, mereka pun menari berdua. Sang putri memainkan gerak kaki yang menerbitkan suara gemerincing, serta tangan yang terus meliuk-liuk memainkan kipas.

Ilustrasi Tari Lenggok Putri Kipas Maranao asal Mindanao, Filipina. FOTO/SCREENSHOT

Beberapa waktu kemudian, para dedayang mengiring tarian mereka. Tarian itu ditutup dengan cara sang putri yang diusung di atas bambu dan diarak keluar panggung oleh penari pria.

Tarian Singkil diambil dari nama aksesoris lonceng kecil yang dipakaikan di kaki Putri Maranau. Diiringi oleh kulintang, tarian ini menghadirkan suasana yang eksotis. Tarian tersebut tidak sedikitpun menampilkan gerak erotis, karena tarian rakyat kaum Muslim menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

Busana perempuan dan laki-laki menutupi tubuh dengan sempurna. Pakaian penari tidak ketat, tapi terlihat mewah dengan aksesoris yang semarak.

Asal-usul tari Singkil ini ada yang menyebutkan dari daerah Basak yang terletak di tepi timur Danau Lanao, yang kemudian menyebar ke desa-desa lain pada tahun 1930-an. Ada juga yang menyatakan tarian tersebut dibawa ke Lanao, khususnya ke Rumayas, Lumba-Bayabao, sebelumnya dikenal sebagai Maguing, oleh seseorang dari Cotabato, Maguindanao.

Kanami Namiki (2016) dalam tesisnya berjudul: Dancing in the margins: The politics of national and local identity among the Maranao and Kalinga in the Philippines, mengajukan pendapat bila tarian itu merupakan tarian bambu.

Tarian bambu tersebut kemudian diterapkan oleh masyarakat Maranao saat tarian rakyat dimasukkan ke dalam kurikulum Pendidikan Jasmani di sekolah umum Lanao pada awal tahun 1900-an. Dalam tesisnya itu Kanami Namiki juga menulis, Henrietta Hofer-Ele merupakan orang pertama yang melakukan penelitian terhadap pertunjukan tari yang kini disebut Singkil itu.

Didorong oleh gurunya, Francisca Reyes Aquino, Hofer-Ele melakukan pembelajaran tentang tarian bambu unik yang dia saksikan di Marawi pada acara atletik antar sekolah regional. Awalnya, tarian ini tidak memiliki nama dan hanya dibawakan oleh anak perempuan, biasanya satu atau dua orang penari sambil memegang kipas di tangan mereka.

Aquino bermaksud untuk mempelajari tarian itu sendiri tetapi tidak memiliki koneksi lokal, sehingga menghambat penyelidikannya. Namun, Hofer-Ele, berasal dari provinsi terdekat Cotabato, memiliki hubungan keluarga yang memungkinkan dia untuk melanjutkan penelitiannya.

Pada pertengahan tahun 1950-an, Hofer-Ele mengalami kesulitan menemukan orang yang memiliki pengetahuan tentang tarian tersebut karena tarian tersebut jarang dipraktekkan dan perlahan-lahan menghilang.

Namun, Putri Tarhata Alonto-Lucman, seorang bangsawan, dengan murah hati membagikan ilmunya kepada Hofer-Ele. Wanita Maranao lainnya kemudian mengajari Hofer-Ele gerakan spesifik yang melibatkan penggemar. Salah satu wanita ini membuat Hofer-Ele terkesan dengan nyanyiannya sambil dengan terampil menangani tiga kipas di masing-masing tangannya.

Meskipun penelitian Hofer-Ele tidak memberikan bukti bahwa tarian tersebut awalnya adalah tarian kerajaan, Bayanihan Philippine National Folk Dance Company menafsirkannya sebagai tarian tersebut. Penafsiran ini mungkin dipengaruhi oleh fakta orang yang mengajari Hofer-Ele tarian itu adalah keturunan bangsawan.

Versi tari Singkil menampilkan beberapa penari kipas, seorang pangeran, pejuang dengan pedang dan perisai, tiang bambu yang saling bersilangan, dan petugas payung. Pertunjukan tersebut menampilkan sketsa teatrikal yang menggambarkan segmen epos Darangen. Akhir tarian, Pangeran Bantungan digambarkan berhasil menyelamatkan Putri Gandingan saat terjadi gempa bumi.(Adv)

NiagaHoster