Dishub Banda Aceh Tegaskan Pentingnya Partisipasi Masyarakat untuk Cegah Kemacetan

Petugas Dishub Banda Aceh melakukan pengawasan lalu lintas di ZoSS Banda Aceh, Senin (23/11/2025). FOTO/ DOK DISHUB BANDA ACEH

oketrend.id, Banda Aceh – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banda Aceh menegaskan bahwa partisipasi aktif masyarakat merupakan faktor paling penting dalam upaya mencegah dan mengurai kemacetan di berbagai titik kota. Kepala Dishub Kota Banda Aceh, Ir M Syaifuddin Ambia ST MT, menyebut bahwa pemerintah tidak akan mampu bekerja maksimal tanpa dukungan dan kesadaran kolektif seluruh pengguna jalan.

“Kemacetan tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah personel pengatur lalu lintas atau memperlebar jalan. Yang paling penting adalah kesadaran masyarakat untuk mematuhi aturan lalu lintas dan bekerja sama menciptakan tertib berkendara,” ujar Ambia di Banda Aceh, Senin (23/11/2025).

Ambia menjelaskan, Dishub telah menjalankan sejumlah langkah strategis dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari edukasi kepada pengguna jalan, penertiban parkir liar, pengaturan arus, hingga penataan ulang titik rawan macet. Namun, kesuksesan berbagai program itu tetap sangat bergantung pada perilaku masyarakat.

Petugas Dishub Banda Aceh mensosialisasikan warga lewat penempelan stiker teguran pada kendaraan langgar kawasan larangan parkir, di Banda Aceh, Senin (23/11/2025). FOTO/ DOK DISHUB BANDA ACEH

“Kami sangat mengapresiasi masyarakat yang mulai tertib, tidak parkir sembarangan, dan mengikuti arahan petugas. Ini bentuk sinergi yang kami harapkan semakin menguat,” tambahnya.

*Zona Selamat Sekolah (ZoSS) Jadi Fokus Penguatan Disiplin Lalu Lintas

Selain penataan di kawasan pusat aktivitas, Ambia juga menyoroti pentingnya penerapan Zona Selamat Sekolah (ZoSS) sebagai bagian dari strategi besar pengendalian kemacetan sekaligus peningkatan keselamatan pelajar. Menurutnya, ZoSS merupakan area yang harus benar-benar dipatuhi oleh seluruh pengguna jalan, terutama pada jam masuk dan pulang sekolah.

“ZoSS bukan sekadar marka atau rambu. Ini adalah zona perlindungan bagi anak-anak. Kalau masyarakat disiplin, arus lalu lintas di sekitar sekolah akan lebih terkendali dan angka kecelakaan pun bisa ditekan,” jelas Ambia.

Kadishub Kota Banda Aceh, Ir M Syaifuddin Ambia ST MT.

Ia menegaskan, salah satu penyebab terjadinya penyempitan arus di kawasan sekolah adalah perilaku orang tua yang berhenti sembarangan saat mengantar atau menjemput anak. Karena itu, Dishub terus melakukan sosialisasi, sekaligus memperkuat pengawasan di sejumlah sekolah.

“Kami mendorong orang tua untuk menaati pola drop-off dan pick-up yang sudah diatur. Kalau ZoSS berjalan baik, kemacetan di sekitar sekolah otomatis berkurang,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan, Pengawasan dan Keselamatan Dishub Banda Aceh, Aqil Perdana Kesumah SH MH, mengatakan bahwa pihaknya meningkatkan frekuensi patroli rutin di berbagai titik strategis seperti Pasar Aceh, Peunayong, Simpang Lima, kawasan perkantoran, serta pengawasan di ZoSS yang memiliki tingkat kepadatan tinggi saat jam sekolah.

Kepala Bidang Pembinaan, Pengawasan dan Keselamatan Dishub Banda Aceh, Aqil Perdana Kesumah SH MH.

“Setiap hari kami melakukan pengawasan intensif. Ada titik-titik yang sangat rawan dan memerlukan kehadiran petugas untuk menjaga kelancaran arus. Tindakan penertiban, khususnya terhadap parkir sembarangan, terus dilakukan,” jelas Aqil.

Menurutnya, sebagian besar persoalan kemacetan di Banda Aceh bukan semata-mata disebabkan oleh volume kendaraan, melainkan oleh perilaku pengguna jalan yang tidak tertib.

“Sebagian besar penyebab kemacetan di Banda Aceh muncul dari perilaku tidak tertib, mulai dari berhenti mendadak, mengambil jalur yang tidak seharusnya, hingga memonopoli badan jalan untuk parkir,” ujar Ambia.

Ia menyatakan, perilaku tersebut tidak hanya menghambat kelancaran arus lalu lintas, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan. Karena itu, pihaknya terus melakukan edukasi dan penertiban di berbagai titik rawan untuk memastikan kesadaran berlalu lintas masyarakat semakin meningkat.

Aqil kembali menekankan, keberhasilan mengatasi kemacetan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Banda Aceh yang kini terus berkembang membutuhkan kolaborasi menyeluruh dari masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas, hingga kelompok organisasi sosial.

“Ini bukan persoalan Dishub saja. Ini persoalan kita semua. Kalau semua disiplin, semua tertib, maka kota ini akan menjadi kota yang nyaman, aman, dan teratur,” imbuhnya. (Adv)

NiagaHoster